BISNIS MAJU DENGAN MENGEDEPANKAN  ETIKA BISNIS SYARIAH

BISNIS MAJU DENGAN MENGEDEPANKAN  ETIKA BISNIS SYARIAH

(Diambil dari berbagai sumber termasuk Kajian Ustad Adi Abdillah)

Umat muslim dalam menjalankan usaha atau berbisnis harus menyelaraskannya dengan Akidah Agama Islam. Dalam Islam hal ini disebut dengan Etika Bisnis Syariah (EBS).

Bisnis yang dijalankan harus sesuai dengan syariah Islam, tujuannya agar bisnis kita mendapatkan ridho dan rahmat dari Allah SWT.

Bisnis yang baik tidak hanya melulu berorientasi profit, namun juga bisa membawa pemilik dari bisnis tersebut lebih mendekat kepada Sang Pencipta yaitu Allah.

Sudah banyak contoh bila bisnis dijalankan tidak sesuai dengan syariah Islam pasti akan membawa musibah, entah bisnisnya bangkrut, atau mungkin bila maju pun seperti hasilnya tidak bisa dinikmati oleh pemilik usaha. Kenapa?

Karena bisnisnya menyimpang dari etika berbisnis syariah, artinya Allah tidak meridhoi akan bisnis tersebut.

Bagaimana caranya agar bisnis kita mendapatkan sesuai dengan etika bisnis syariah? Bagaimana agar Allah selalu memberikan ridho bisnis kita? Mari kita telaah bersama bisnis kita sekarang atau mungkin yang akan kita jalankan agar sesuai dengan etika bisnis syariah Islam.

Dalam bisnis harus memperhatikan etika bisnis agar sesuai syariah Islam diantaranya :

EBS #1  Pemilik bisnis adalah Ahli Masjid

Pada jaman Rosulullah dahulu, para pedagang merupakan para ahli masjid. Disamping mereka menguasai ilmu dagang, mereka juga merupakan orang-orang yang sangat memperhatikan Akidah Agama. Bahkan Agama merupakan hal yang terutama dalam hidup mereka.

Ini seperti yang Allah katakan dalam firman-Nya di Al-quran.

”Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur :37).

Dalam surat an-Nur: 37 ini Allah menginformasikan bahwa orang yang mendapat pancaran Nur Ilahi itu adalah orang yang tidak dilengahkan oleh bisnisnya, mereka selalu mengingat Allah dan tidak pernah lupa atau lalai sepanjang upaya mereka yang bersinambungan guna mencari keuntungan.

Disamping itu perdagangan atau usaha jangan sampai menjauhkan dari Ibadah.

Maksudnya ketika waktunya ibadah telah datang, pedagang malah menyibukkan diri dengan jual belinya sehingga meninggalkan shalat berjamaah di masjid.

Dia yang meninggalkan shalat atau sengaja menunda-nunda waktu shalat, maka usaha bisnis yang dilakukannya sungguh sangat dilarang oleh Allah.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allâh lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allâh sebaik-baik pemberi rezeki.

(QS.Al-Jumu’ah : 9-11).

Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu dibumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS : Al – Jumu’ah : 10).

Melalui firman Allah kita bisa mengerti bahwa agar usaha atau bisnis kita memperoleh keberuntungan, ridho dan rahmat Allah agar kita lebih mendahulukan shalat daripada usaha kita.

Kita diajarkan untuk menjadi ahli masjid terlebih dahulu baru mengupayakan usaha bisnis.

EBS #2  Larangan mengambil untung berlipat disaat kondisi sulit.

Keuntungan berlipat yang diperoleh melalui jalan seperti ini sangat menggiurkan, namun sangat dibenci oleh Allah.

Terkadang untuk memperoleh keuntungan yang berlipat banyak pebisnis menggunakan cara-cara yang kotor. Seperti menimbun barang, sehingga dia bisa menjual barang dengan harga tinggi disaat barang langka dipasaran.

Dalam bahasa Arabnya dikenal dengan istilah “al-Ihtikar“, yaitu secara bahasa adalah menyimpan makanan, adapun secara istilah adalah : “ Seseorang membeli makanan ketika harganya tinggi untuk diperjualbelikan, tetapi dia tidak menjualnya pada waktu itu, justru malah ditimbunnya agar menjualnya dengan harga yang lebih tinggi. ( Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim : 10/ 219 ).

Atau bisa saja, karena barang yang diperlukan pembeli sangat dibutuhkan maka si penjual mengambil peluang dengan menjual lebih tinggi harganya dari harga yang sebenarnya.

Boleh-boleh saja, kita berbisnis untuk mengeruk keuntungan yang tinggi namun diperlukan juga kesadaran diri untuk tidak serakah dalam menentukan harga. Karena keserakahan sangat dibenci Allah. Misalnya, suatu daerah sedang terkena wabah penyakit dan obatnya adalah jenis A. Sipenjual mengambil kesempatan ini dengan menjual obat A setinggi-tingginya. Ini merupakan suatu hal yang dilarang dalam Islam.

Inilah keserakahan yg jauh dari keberkahan. Walau akhirnya orang lain mau membeli, namun mereka membelinya pun pasti tidak  ikhlas..

Bukankah dalam kitab hadist Arbain Rosulullah bersabda “Belum beriman (dengan sempurna) hingga salah seorang diantara kamu mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.”

              (HR. Bukhari no. 6437)

 Rosulullah sudah menyadari sifat keserakahan manusia akan harta dan ini sangat ditentang oleh Beliau.

Namun ada keserakahan yang memang sangat dianjurkan dalam Islam yaitu “keserakahan” akan ilmu. Maka mari kita serakah dalam menuntut ilmu dan berhati-hati dalam menuntut harta.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. QS. An-Nisa’:29

Pengertian batil disini artinya menurut jalan yang salah. Jalan yang salah dalam usaha atau bisnis dalam Islam seperti :

  • Korupsi
  • Mutu barang yang tidak sesuai dengan harga
  • Timbangan yang tidak sesuai dengan yang tertulis dalam kemasan atau pesanan pembeli.
  • Mengganti barang dengan mutu yang rendah sebagai pengganti barang bila pesanan tidak ada, namun harga yang sama.

Dalam lanjutan ayat “dan janganlah kamu membunuh diri-diri kamu”. Diantara harta dengan diri atau jiwa dengan diri atau jiwa, tidak dapat dipisahkan, karna orang yang mencari harta adalah untuk melanjutkan hidupnya didunia ini.

Oleh karena itu, selain kemakmuran harta benda hendaklah terdapat kemakmuran atau ketenangan jiwa. Di samping menjauhkan diri dari memakan harta dengan cara batil, janganlah terjadi pembunuhan, tegasnya jangan membunuh karna sesuap nasi.

Sesungguhnya Allah amat sayang kepadamu, karena itulah Allah menyuruh mengatur dalam mencari harta dengan cara baik, dan Allah melarang membunuh diri kamu baik orang lain apalagi diri kamu sendiri.

Kewaspadaan dalam berbisnis pun diperlukan agar kita terhindar dari penipuan, sehingga bisnis kita tidak sampai membunuh kita. Allah memang sangat sayang, bukan?

EBS #3 Islam melarang monopoli

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan Monopoli adalah situasi yang pengadaan barang dagangannya tertentu ( di pasar lokal atau nasional ) sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok sehingga harganya dapat dikendalikan.

Dalam islam sangat melarang adanya Monopoli, Kenapa?

  1. Karena bisnis dengan sistem ini hanya akan membuat harga menjadi tidak wajar. Ia hanya dikuasai oleh pihak tertentu dan pasar tidak bisa berbuat apa-apa.
  2. Monopoli hanya akan memperkaya satu pihak tertentu dan membuat yg lain makin lemah.

Monopoli hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :

Dalil Pertama : Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Dan barang siapa yang bermaksud di dalamnya ( Mekkah ) melakukan kejahatan secara lalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” ( Qs al-Hajj : 25 )

Berkata ath-Thobari di dalam tafsirnya (9/131 ) : “ Yang dimaksud melakukan kejahatan di dalamnya adalah melakukan monopoli makanan di Mekkah. “

 Dalil Kedua : Hadist Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

 

 “ Tidak boleh memberikan madharat kepada diri sendiri dan kepada orang lain, barang siapa yang memberikan madharat kepada orang lain, maka Allah akan memberikan madharat kepadanya, dan barangsiapa yang memberikan beban kepada orang lain, maka Allah akan memberikan beban kepadanya.“ ( HR. Daruquthni (3/ 77 ) lihat juga Bulughul Maram, hadits : 910 )

Berkata Ibnu Sholah : “ Hadist ini dinisbatkan kepada Daruquthni dari berbagai jalan yang kesemuanya menguatkannya dan menjadikan hadist ini sahih. Mayoritas ulama menerimanya dan dijadikan sebagai sandaran dalam hukum. “

 

Dalil Ketiga : Hadist Ma’mar bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

“ Barangsiapa menimbun barang, maka ia berdosa.” (HR Muslim (1605).         

 

 

PERBEDAAN PENDAPAT PARA ULAMA

  

Walaupun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang monopoli yang dilarang dalam hadist di atas,

Pendapat Pertama : Monopoli yang diharamkan hanya pada makanan saja, selain makananan dibolehkan. Ini pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Dalilnya bahwa Sa’id bin Musayyib perawi hadist di atas, ketika ditanya, “Kenapa engkau melakukan penimbunan ?” Sa’id menjawab :  “Sesungguhnya Ma’mar yang meriwayatkan hadits ini telah melakukan penimbunan(selain makanan)“. Ini menunjukkan bahwa yang dilarang adalah menimbun makanan.

 

Pendapat Kedua : Monopoli yang diharamkan adalah pada semua jenis barang yang bisa merugikan masyarakat, khususnya pada barang-barang yang menjadi kebutuhan umum masyarakat, seperti makanan pokok, cabe, bawang, bensin dan lain-lainnya.

Berkata Imam al-Baghawi di dalam  Syarhu as-Sunnah(8/179) : “Imam Malik dan Imam at-Tsauri mengharamkan monopoli pada semua barang “

 

Kriteria Monopoli Yang Dilarang 

Menimbun barang yang diharamkan menurut  mayoritas ulama bila memenuhi beberapa kriteria di bawah ini :

 

Pertama : Monopoli yang dilarang adalah jika penimbun membelinya dari pasar umum. Adapun jika menimbun dari sawahnya sendiri atau dari hasil kerjanya sendiri maka hal itu dibolehkan.

Berkata Ibnu Qudamah di dalam  al-Mughni ( 4/ 154 ) : “ Jika dia mengambil barang dari tempat lain atau dari sawahnya sendiri dan menyimpannya, maka tidak termasuk menimbun yang dilarang. “

Di dalam Mushannaf Abdu Rozaq ( 14885 ) dengan sanad shahih bahwa Thowus menyimpan bahan makanan hasil panen sawahnya selama dua sampai tiga tahun, untuk dijualnya ketika harga barang naik.

 

Kedua : Monopoli yang dilarang adalah jika dia membeli barang tersebut ketika harganya mahal, untuk kemudian dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi.  Seperti orang membeli bensin banyak-banyak menjelang harga naik, untuk disimpannya dan menjualnya dengan harga tinggi.

Kalau membeli ketika harga murah dan barangnya berlimpah di masyarakat dan menyimpannya untuk dijual dengan harga lebih mahal karena kebutuhan hidupnya, maka ini tidak termasuk monopoli yang dilarang.

Berkata Imam Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (11/ 41): “ Monopoli yang diharamkan adalah jika seseorang membeli makanan ketika harganya mahal dengan tujuan untuk dijual lagi,  dia tidak menjualnya langsung, tetapi disimpannya terlebih dahulu agar harganya lebih mahal.

Adapun jika dia membeli makanan tersebut pada waktu harga murah, kemudian menyimpannya dan menjualnya ketika harga tinggi, karena dia membutuhkan ( uang ) untuk makan, ataupun jika seseorang membeli makanan tersebut kemudian dijualnya lagi, maka perbuatan-perbuatan tersebut tidak termasuk dalam monopoli, dan tidak diharamkan. “

 

Ketiga : Monopoli yang dilarang adalah jika dia menimbun untuk dijual kembali. Adapun jika ia menimbun makanan atau barang untuk kebutuhan pribadi atau keluarga, tanpa ada niat menjualnya bukan termasuk monopoli yang dilarang.

Berkata al-Baji di dalam al-Muntaqa ( 5/15 ) : “ Monopoli itu adalah menimbun barang dagangan dan mengambil untung darinya. Adapun menyimpan bahan makanan (untuk keperluan sendiri), maka tidak termasuk monopoli. “

Di dalam hadist Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata :

 “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyimpan makanan untuk keluarganya selama setahun, adapun sisa dari kurmanya dijadikan sebagai harta Allah ( untuk dinfakkan).” ( HR. Abdur Rozaq di dalam al Mushannaf (14451). Hadist yang serupa  juga diriwayatkan Bukhari (2904 ) dan Muslim (1757 ).

 

Keempat : Monopoli yang dilarang adalah menimbun barang pada waktu masyarakat membutuhkan barang tersebut. Adapun menimbun barang yang banyak beredar di masyarakat untuk persiapan musim paceklik maka itu dibolehkan.

Nabi Yusuf alaihi as-salam pernah melakukan penyimpanan bahan makanan secara besar-besaran pada musim panen untuk persiapan menghadapi musim paceklik di masa mendatang, dan ini tidak mempengaruhi pasar, sebagaimana disebutkan al-Qur’an:

“Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” ( Qs Yusuf : 47-49 )

 Berkata al-Qurtubi di dalam tafsirnya ( 9/204 ) : “  Ayat di atas menunjukkan kebolehan menimbun makanan sampai waktu yang dibutuhkan. “

 Berkata Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla ( masalah 1568 ) : “ Menimbun barang ketika masih melimpah tidaklah berdosa, bahkan sebaliknya dia telah melakukan kebaikan, karena kalau barang dijual semuanya, nanti cepat habis, sehingga tidak ada persediaan dan masyarakat tidak memilikinya lagi, hal itu akan merugikan kaum muslimin. “

 

Kelima : Monopoli yang dilarang adalah menimbun barang-barang yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat seperti pangan, sandang, minyak dan lain-lain. Adapun menimbun barang-barang yang bukan kebutuhan pokok masyarakat dan barang tersebut banyak di tangan para pedagang, serta tidak merugikan masyarakat, maka hal ini dibolehkan.

EBS #4 Salah satu larangan bisnis adalah menawar barang yang sudah ditawar orang lain.

 Menawar barang yang ditawar orang lain hukumnya adalah haram berdasarkan hadis dan kesepakatan ulama.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang muslim menawar barang yang ditawar oleh muslim yang lain.” (HR Muslim, no.3886).

Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang itu menawar barang yang ditawar oleh muslim yang lain. (HR. Muslim, no.3889).

Tentang pengertian menawar barang yang ditawar orang lain sebagaimana penjelasan An Nawawi Asy Syafii bahwa maksudnya adalah adanya kesepakatan antara pemilik barang dengan peminat barang tersebut untuk mengadakan transaksi jual beli namun keduanya belum mengadakan transaksi lalu datanglah orang ketiga menemui penjual lantas mengatakan akulah yang akan membelinya. Hal ini hukumnya haram jika sudah ada kesepakatan harga antara pemilik barang dengan penawar pertama. (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim 10:123).

Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan hal ini telah melakukan hal yang haram sehingga pelakunya tergolong sebagai pelaku maksiat.

Meski demikian mayoritas ulama mengatakan bahwa transaksi jual beli yang dilakukan oleh orang yang melanggar larangan di atas adalah transaksi jual beli yang sah.

Sedangkan menawar barang yang dijual dengan sistem lelang hukumnya tidak haram meski barang tersebut sudah ditawar oleh orang sebelumnya.

EBS #5 Larangan berbisnis dengan Sistem Riba

Riba berasal dari bahasa arab yaitu ziyadah, yang berati tambahan. Tambahan ini muncul dalam dua akad, baik jual beli maupun pinjam meminjam.

Di era yang serba digital dan modern ini, ternyata banyak sekali praktik-praktik yang mengandung riba, khususnya dalam ekonomi.

Disinilah kemudian perlu adanya kajian ulang agar supaya setiap kegiatan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan nilai-nilai islam (halalan-thayyibah).

 

Dasar Hukum Riba

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman.” (Q.S. Al-Baqarah: 278)

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 276)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”. Al-Baqarah (2):275

Ketiga ayat diatas memberikan gambaran kepada kita tentang riba baik dari segi larangan dan akibatnya. Maka dengan adanya ayat-ayat tersebut dalam Al qur’an, semestinya kita harus menjauh dari segala sesuatu yang ada unsur riba-nya.

Jenis-Jenis Riba

Ada dua macam kategori riba, yaitu yang muncul akibat jual-beli dan pinjam meminjam.

Jual beli pada dasarnya merupakan akad tukar menukar barang. Jika demikian, maka riba akan muncul jika ada tambahan baik dari segi kuantitas dari barang yang diperjualbelikan ataupun karena penyerahan pembayaran yang ditunda.

Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak,  gandum ditukar dengan gandum, syair (jewawut, salah satu jenis gandum) ditukar dengan syair, kurma dutukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.(HR. Muslim no. 1584)

Dari hadis diatas, ada dua ketentuan yang harus dipahami :

  1. Enam Komoditas diatas harus ditukarkan dengan takaran (timbangan dan volume) yang sama. Artinya 6 gram emas harus ditukar dengan 6 gram emas, jika kemudian 6 gram emas ditukar dengan 7 gram emas, maka inilah yang disebut dengan riba fadhl karena ada penambahan takaran.
  1. Ketika melakukan pertukaran dengan 6 komoditas maka pembayarannya harus tunai dan tidak bisa non tunai (kredit). Jika non tunai, maka inilah yang dinamakan riba nasiah, karena ada penambahan tenggang waktu pembayaran.

Riba terjadi dalam akad pinjam meminjam, artinya terdapat manfaat tambahan atas utang piutang pihak yang bersangkutan.

Misalnya seorang meminjam kepada temannya sebesar satu juta, dengan persyaratan ketika dikembalikan lebih besar dari sejuta, misalnya 1.500.000, maka tambahan sebesar lima ratus ribu tersebut masuk kedalam kategori riba Qardh. Riba qardh biasa dikenal dengan sistem bungan pinjaman di bank konvensional.

Kondisi yang kedua, jika kedua pihak yang berhutang dan memberikan piutang sepakat jika pengembalian hutang lebih dari waktu yang disepakati maka pihak yang berhutang harus membayar denda karena ada penambahan waktu. Ini dikenal dengan riba Jahiliyah.

 

Haramnya Bunga Bank

Berbicara tentang bunga bank memang sangat kompleks dan begitu luas cakupannya. Saat ini dengan begitu banyaknya bank-bank konvensional, tak bisa dipungkiri lagi bahwa metode yang digunakan dalam prosese pendanaan (funding) dan pembiayaan (financing) adalah mengedepankan konsep bunga.

Lantas kemudian bagaimana perkembangan praktik bunga ini dan apa solusinya jika kemudian secara keseluruhan bunga bank adalah haram?

Sebelumnya mari kita perhatikan beberapa pendapat dan konsep para ahli maupun lembaga berikut :

Lajnah Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama

Ada tiga pendapat dalam bahtsul masail di Lampung tahun 1982.

Pendapat yang pertama mengatakan bahwa bunga Bank adalah riba secara mutlak dan hukumnya haram.

Yang kedua berpendapat bunga bank bukan riba sehingga hukumnya boleh.

Pendapat yang ketiga, menyatakan bahwa bunga bank hukumnya syubhat.

 

Konsul Kajian Islam

Ulama-ulama besar dunia yang terhimpun dalam lembaga ini telah memutuskan hukum yang tegas terhadap bunga bank sebagai riba. Ditetapkan bahwa tidak ada keraguan atas keharaman praktek pembungaan uang seperti yang dilakukan bank-bank konvensional.

Di antara 300 ulama itu tercatat nama seperti Syeikh Al-Azhar, Prof. Abu Zahra, Prof. Abdullah Draz, Prof. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’, Dr. Yusuf Al-Qardlawi. Konferensi ini juga dihadiri oleh para bankir dan ekonom dari Amerika, Eropa dan dunia Islam.

Pendapat diatas belum terlalu jelas memberikan penggambaran akan tingkat keharaman bunga bank. Karena masih terdapat perbedaan dalam penentuan keharamannya.

Mari kita lihat bagaiman lembaga yang bertanggung jawab atas kepatuhan syariah dan hukum syariah di negara kita, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI).

 

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 1 Tahun 2004
Tentang BUNGA (INTERSAT/FA’IDAH)

MEMUTUSKAN : FATWA TENTANG BUNGA (INTEREST/FA`IDAH):

Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di per-hitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase.

Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang di perjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah.

Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman Rasulullah SAW, Ya ini Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.

Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank,  Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Bermu’amallah dengan lembaga keuangan konvensional.

Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah dan mudah di jangkau, tidak di bolehkan melakukan transaksi yang di dasarkan kepada perhitungan bunga.

Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat.

Demikianlah Keputusan dari MUI yang dengan sangat jelas mengharamkan bunga bank karena merupakan bagian dari riba. Sebuah hukum dalam dunia perekonomian secara syariah sifatnya adalah muamalah. Artinya hukum terbentuk dengan adanya dinamika dalam masyarakat yang semakin modern.

Namun demikian, untuk masalah bunga bank yang pada dasarnya adalah riba yang memang telah ditetapkan hukumnya oleh Allah swt dalam Alqur’an, tidak ada celah untuk mengubahnya. (Sumber: https://bursanom.com/riba-dalam-ekonomi-islam/).

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan betapa dalam Islam manusia sangat di per hatikan dan dibimbing dalam perdagangan, digambarkan betapa buruknya orang yang melakukan kecurangan dalam perdagangan, tidak saja manusia merugi secara materi dan hubungan sosialnya, tetapi juga merugi sampai di akhirat kelak.

Akan tetapi sangat beruntung orang yang selalu memperhatikan dan mengikuti apa yang telah menjadi peraturan (hukum) secara syari’ah dalam perdagangannya, tidak saja keuntungan duniawi yang dia dapatkan, tetapi juga keuntungan di akhirat nanti juga akan dinikmatinya

Semoga Bermanfaat….

Salam Sukses Dunia Akhirat,

Hermawan Tandi bersama Ustad Adi Abdillah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *