MOTIVASIKAN DIRI DARI KEPEDIHAN DAN KENIKMATAN

Ada suatu daya pendorong tunggal di balik segala perilaku manusia. Daya ini mempengaruhi segala aspek kehidupan kita, mulai dari hubungan-hubungan kita, aspek keuangan kita hingga tubuh kita dan otak kita.

Apakah daya yang mengendalikan Anda bahkan sekarang ini, dan akan terus mengendalikan Anda seumur hidup Anda? KEPEDIHAN dan KENIKMATAN! Segalanya yang kita lakukan, entah kita melakukan karena kebutuhan kita untuk menghindarkan kepedihan atau hasrat kita untuk mendapatkan kenikmatan.

Demikian sering saya mendengar orang membicarakan soal perubahan-perubahan yang ingin mereka capai dalam kehidupan mereka. Akan tetapi, mereka tidak kunjung menindak-lanjutinya. Mereka merasa frustrasi, kewalahan, bahkan marah terhadap diri sendiri karena mereka tahu mereka perlu mengambil tindakan, tetapi tidak berhasil mendorong diri untuk melaksanakannya.

Ada satu alasan mendasar: mereka terus berusaha mengubah perilakunya,yang adalah efeknya, dan bukannya membereskan penyebab yang melatar-belakanginya.

Memahami dan memanfaatkan daya-daya kepedihan dan kenikmatan akan memungkinkan Anda sekali untuk selamanya menciptakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan langgeng yang Anda inginkan bagi diri sendiri dan mereka yang Anda pedulikan.

Tidak memahami daya ini membuat Anda hidup reaktif, seperti hewan atau mesin. Mungkin ini terdengar seperti terlalu menyederhanakan, tetapi renungkanlah. Mengapakah tidak Anda melakukan hal-hal yang Anda tahu seharusnya Anda lakukan?

Apakah menunda-nunda itu? Itu adalah ketika Anda tahu Anda seharusnya mengerjakan sesuatu, tetapi tetap tidak mengerjakannya. Mengapa tidak? Jawabannya sederhana saja: pada tingkatan tertentu, Anda menganggap bahwa mengambil tindakan sekarang ini akan lebih menyakitkan daripada menundanya.

Akan tetapi, pernahkah Anda menunda sesuatu demikian lamanya lalu tiba-tiba merasakan tekanan untuk mengerjakannya, menuntaskannya? Apa yang terjadi? Anda mengubah apa yang Anda kaitkan dengan kepedihan dan kenikmatan itu.

Tiba-tiba saja, tidak mengambil tindakan menjadi lebih menyakitkan daripada menundanya.

Apakah yang menghalangi Anda untuk mendekati pria atau wanita impian Anda itu? Apakah yang menghalangi Anda untuk memulai bisnis baru yang sudah bertahun-tahun Anda rencanakan itu? Mengapa Anda terus saja menunda melakukan diet?

Walaupun Anda tahu bahwa semua tindakan itu akan menguntungkan Anda—bahwa tentunya tindakan-tindakan tersebut dapat memberikan kenikmatan bagi kehidupan Anda—Anda tidak juga bertindak karena saat itu, Anda mengaitkan kepedihan lebih besar dengan mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, daripada melewatkan kesempatan tersebut.

Bagi kebanyakan orang, takut rugi itu jauh lebih besar daripada hasrat untung. Yang manakah akan lebih mendorong Anda: mencegah seseorang mencuri 100.000.000,- yang sudah Anda kumpulkan selama lima tahun terakhir, atau potensi meraih 100.000.000 lima tahun lagi?

Pada kenyataannya, kebanyakan orang bersedia bekerja lebih keras untuk berpegangan pada apa yang sudah mereka miliki, daripada mengambil risiko yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan dari kehidupan mereka.

“Rahasia sukses adalah belajar menggunakan kepedihan dan kenikmatan bukannya dikendalikan oleh kepedihan dan kenikmatan. Kalau Anda lakukan itu, Anda memegang
kendali atas kehidupan Anda. Kalau tidak, kehidupanlah yang mengendalikan Anda.”
—ANTHONY ROBBINS

Sering kali, muncul pertanyaan menarik dalam diskusi tentang kekuatan kepedihan dan kenikmatan yang mendorong kita ini: Mengapa orang bisa mengalami kepedihan tetapi tidak juga berubah? Mereka belum cukup mengalami kepedihan; mereka belum membentur apa yang saya sebut ambang batas emosional.

Kalau Anda pernah menjalin hubungan yang merusak dan akhirnya mengambil keputusan untuk menggunakan kuasa pribadi Anda, mengambil tindakan dan mengubah kehidupan Anda, itu mungkin adalah karena Anda telah membentur tingkatan kepedihan yang tidak mau lagi Anda toleransi.

Kita semua pernah mengalami saat-saat dalam kehidupan kita ketika kita mengatakan, “Cukup sudah—tidak mau lagi—ini harus berubah sekarang juga.” Inilah momen ajaib ketika kepedihan menjadi sahabat kita.

Kepedihan mendorong kita untuk mengambil tindakan baru dan menghasilkan hasil-hasil baru. Kita bahkan menjadi lebih terdorong lagi untuk bertindak kalau di momen yang sama, kita mulai mengharapkan bagaimana berubah itu juga akan menciptakan banyak kenikmatan bagi kehidupan kita.

Proses ini tentunya tidak terbatas hanya pada hubungan. Mungkin Anda telah mengalami ambang batas dengan kondisi fisik Anda: akhirnya Anda muak karena tidak lagi dapat duduk di tempat duduk di pesawat, pakaian Anda tidak lagi cukup, dan naik tangga menjadi sangat sulit bagi Anda. Akhirnya Anda mengatakan, “Cukup sudah!” dan mengambil keputusan. Apakah yang memotivasi keputusan tersebut? Hasrat untuk menyingkirkan kepedihan dari kehidupan Anda dan kembali meraih kenikmatan: kenikmatan karena bangga, kenikmatan karena nyaman, kenikmatan karena harga diri, kenikmatan karena hidup seperti yang Anda rencanakan.

Setiap harinya dalam kehidupan kita dipenuhi dengan negosiasi psikis seperti itu. Kita terus saja menimbang rencana tindakan kita sendiri dan dampaknya terhadap kita.

Keputusan atas kekuatan kepedihan dan kenikmatan, sangat besar tergantung kuasa dalam diri Anda. Gunakanlah kekuatan kepedihan dan kenikmatan dengan lebih bijaksana agar menjadi motivasi hidup kita dalam mengambil keputusan segera dalam perubahan hidup kita.

Semoga bermanfaat

Salam Sukses Dunia Akhirat,

Hermawan Tandi

*)Terinspirasi buku “Awaken” karya Anthony Robbins.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *